Minggu, 06 Januari 2013

Satu Prinsip Bisnis Super Penting yang Wajib Anda Ketahui

Pernahkah anda mendengar hukum pareto? Atau anda pernah mendengar prinsip bisnis 80/20? Prinsip bisnis ini sangat penting untuk anda ketahui. Kalau belum, mari saya jelaskan sekilas.

Saya mendengar prinsip bisnis 80/20 atau hukum pareto ini pertama kali sewaktu saya menekuni bisnis multi level marketing. Penemunya adalah ekonom Italia Vilfredo Pareto (1848-1923).

Ngomong-ngomong, pada artikel saya tentang cari peluang usaha modal kecil, saya pernah menyinggung sekilas tentang “keterlibatan” saya di bisnis multi level marketing tersebut.
Tapi sekarang saya sudah mengundurkan diri karena berbagai pertimbangan. :) Back to the topic, pada waktu itu, upline saya mengatakan seperti ini : “Kamu harus presentasi sebanyak-banyaknya. Supaya 20% orang yang kamu presentasi join di grupmu”.

Dulu saya pikir prinsip bisnis itu hanya berlaku di dunia MLM. Ternyata prinsip bisnis pareto tersebut sangat berguna sekali di bisnis konvesional, bahkan di kehidupan kita sehari-hari. Sebenarnya prinsip bisnis 80/20 itu hanya menyatakan bahwa sebab, masukan (input) atau usaha yang sedikit biasanya membawa akibat, keluaran atau hasil yang besar.

Gambaran gampangnya seperti ini, 80% dari apa yang anda hasilkan dalam pekerjaan anda didapat dari 20% waktu yang anda habiskan. Jadi prinsip bisnis 80/20 itu menyatakan bahwa ada ketidakseimbangan yang mendasar antara sebab dan akibat, masukan dengan keluaran atau antara usaha dengan hasil. Contoh detailnya seperti ini :
Dalam dunia bisnis :
  • 20% produk biasanya menghasilkan sekitar 80% nilai penjualan.
  • 20% konsumen biasanya menghasilkan 80% keuntungan perusahaan.
Dalam masyarakat :
  • 20% penjahat melakukan 80% kejahatan.
  • 20% pengendara motor menyebabkan 80% kecelakaan.
Dalam rumah tangga :
  • 20% dari karpet anda digunakan sebanyak 80%.
  • Anda mengenakan 20% dari pakaian anda selama 80% waktu anda.
Dalam organisasi :
  • Dari keseluruhan mahasiswa, 20%nya serius untuk kuliah, 80% sisanya lebih sering hura-hura, termasuk saya waktu pertama kuliah dulu.
  • Dari keseluruhan pegawai negeri, sekitar 20% yang serius untuk mengabdi ke negara dan rajin masuk kantor. Sisanya ogah-ogahan dan sering mencuri waktu dengan pulang lebih awal.
Memang prosentase pasnya tidak mutlak 80% dan 20%. Itu hanya sebuah kaidah saja, bisa lebih dan tentu saja bisa kurang. Saya punya pengalaman menarik berkaitan dengan prinsip bisnis pareto ini.

Dulu saya berpikir keras. Gimana caranya ya biar saya punya downline 2 orang? Kemudian saya pakai prinsip bisnis 80/20 ini. Jadi kalau saya ingin yang join di grup MLM saya 2 orang, berarti saya harus mengundang 50 orang.

Dari 50 orang yang saya undang, saya perkirakan 20%nya datang ke presentasi saya, yaitu 10 orang. Dari 10 orang yang saya presentasi, 20%nya kemungkinan mau join ke grup saya, yaitu 2 orang. Waktu itu saya bayangkan berat sekali. “Mateng dah, terpaksa harus ngundang 50 orang”, pikir saya. Tapi memang harus seperti itu.

Dan ternyata yang join lebih dari 2 orang. Coba kalau saya berpikir seperti ini, supaya ada yang join 2 orang, berarti saya undang 2 kalinya saja lah, 4 orang. Begitu saya mau presentasi, bisa-bisa nggak ada yang datang.

Jadi saya ulangi lagi, prinsip bisnis pareto ini sangat bisa anda terapkan di dunia bisnis. Seperti misalkan anda mau memilih lokasi untuk usaha counter handphone. Usahakan anda cari minimal 10 ruko yang sesuai dengan kriteria anda, baru anda pilih satu sampai dua yang paling baik.

Begitu juga jika anda punya salesman. Paling dalam satu tim yang misal terdiri dari 10 salesman, cuman 2 orang yang menghasilkan omset terbesar anda. Saya sudah mengalaminya sendiri. Dulu tim penjualan saya terdiri dari 8 orang. Yang benar-benar bisa menghasilkan omset dengan kinerja yang baik hanya 1 orang.

Kesimpulannya adalah, setiap anda melakukan sesuatu, coba hubungkan dengan prinsip bisnis hukum pareto ini. Memang tidak sesederhana seperti yang telah saya paparkan diatas. Tapi paling tidak, anda sudah punya satu kiat bisnis-nya jika anda akan mengambil sebuah tindakan.

Tapi anda jangan punya pemikiran seperti ini lho, “Berarti kalau saya ingin punya satu istri, saya harus cari calon istri 10 orang. Kalau dua, berarti 20 orang calon istri. Berarti kalau menurut teori bisnis yang dipaparkan Om Nip-Nip, saya harus undang 100 calon istri ke rumah saya buat saya seleksi, kalau saya mau punya dua istri.”

Bisa berabe saya kalau anda sampai punya pikiran seperti itu. Apalagi kalau anda sudah beristri. Saya bisa kena damprat istri anda, ha..ha..ha..
(sumber gambar : sixthman.com)

3 Pedoman Penting Dalam Usaha, Nasehat Bisnis Berharga Buat Anda

Saya pernah membaca buku tentang nasihat bisnis. Satu dari sekian nasehat bisnis yang ada di buku tersebut sangat menarik untuk saya bagikan, yaitu nasehat dari Jerry Jones.
Jerry Jones adalah pemilik dan general manager Dallas Cowboys Football Club.
Jerry Jones membagikan 3 pedoman bisnis yang ia dapatkan dari ayahnya yang bernama Pat Jones, yang menurutnya dikarunai insting bisnis yang hebat.
Tiga pedoman yang sangat penting itu adalah :

1. Sebagai seseorang yang masih muda, bergaullah dengan orang yang lebih tua.
Bergaul atau berhubungan dengan orang yang lebih tua yang memiliki catatan keberhasilan di dalam karier profesional mereka adalah sebuah hal yang sangat penting.
Jika anda berinteraksi dengan orang-orang seperti ini, anda dapat mengambil keuntungan dari pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan mereka yang dapat membuat anda terus berkembang ke arah yang lebih baik.

Jangan pernah melewatkan kesempatan untuk menjalin hubungan baik dengan mereka yang telah lebih berpengalaman dan berhasil, dibidang apapun. Ajukan pertanyaan kepada mereka dan belajarlah untuk menjadi pendengar yang baik.
2. Secara filosofi, buatlah pintu depan yang besar dan pintu belakang yang kecil.

Pintu besar disini maksudnya adalah membawa banyak kesempatan untuk meraih pendapatan dan pertumbuhan ke dalam operasi anda, sekaligus hanya membiarkan sejumlah kecil prospek pergi tanpa dieksplorasi terlebih dahulu.

Sikap ini merupakan sikap untuk selalu terbuka dan bersedia untuk secara agresif mengejar dan sebisa mungkin mengembangkan sebanyak mungkin kesempatan yang ada. Seperti mengangkat jaring ikan, tetapi jangan membiarkan terlalu banyak ikan yang melompat dari perahu.

Pintu belakang yang kecil adalah memiliki manager-manager penting yang mampu melaksanakan berbagai tugas. Pekerjakan sedikit orang berbakat dan kembangkan mereka.
Uruslah mereka. Biarkan mereka berproduksi dan berkembang. Kemudian pertahankan mereka dan jangan biarkan mereka pergi. Jika anda ingin mempertahankan banyak karyawan, penting untuk melakukannya di bidang-bidang yang menghasilkan pendapatan.

3. Kadang permainan terbaik di dalam futbol adalah permainan yang hanya akan membuat anda kembali ke arena latihan.
Sering kali seseorang menjadi sangat sukses jika ia secara konsisten dapat bertahan di dalam permainan.

Jika menyangkut pengambilan resiko dalam dunia usaha, saya hanya mengenal segelintir orang yang benar-benar sukses dan dapat membuat keputusan yang tepat dalam waktu yang jauh lebih banyak dari 50% waktu yang mereka miliki.
Namun, mereka tetap sukses dengan memperkecil kerugian mereka dan kembali bangkit.

Kiat Sukses Bisnis : Jangan Tunggu Produk Anda Sempurna

Sampai saat ini, banyak orang yang pro dan kontra dengan keberadaan Robert Kiyosaki. Terlepas dari pro dan kontra-nya, saya akan sharingkan kepada anda satu dari banyak tips bisnis atau kiat sukses bisnis-nya yang saya sukai, yaitu “jangan pernah menunggu produk anda sempurna”.
Pernahkah anda perhatikan software Windows dari Microsoft muncul dalam versi Windows 2.0 atau Windows 3.0? Windows tersebut feature dan tampilannya sangat pas-pasan apabila dibandingkan dengan seri Windows terkini semisal Windows XP, Windows Vista atau Windows 7.
Apa yang bisa anda petik dari hal tersebut? Yaitu produk pertama yang mereka jual tidaklah sempurna. Begitu juga dengan motor Grand dari Honda misalnya.
Sebelum generasi Grand dari Honda sukses, Honda 70 yang terkenal dengan julukan “si pitung” pernah beredar di pasaran. Padahal kala itu, motor tersebut paling rewel dengan platinanya. Jadi mereka tidak serta merta menunggu produknya sempurna.
Banyak pengusaha dari kalangan kita yang gagal masuk ke pasar karena mereka terus menerus menyempurnakan produk mereka. Entah karena product oriented atau karena menunggu produknya sempurna.
Seorang entrepreneur harus segera mulai berjalan dan terus meningkatkan diri mereka dan produk atau jasa mereka. Dengan kata lain, meminjam kiat sukses bisnis pak Joko Susilo, segera Take Action.
Karena mereka menunggu segala sesuatunya berjalan dengan sempurna, akhirnya mereka tidak kunjung mulai dan bertindak. Itulah sebabnya, banyak orang yang tidak pernah gagal karena mereka tidak pernah mulai, dan tentunya tidak akan pernah mengecap keberhasilan.
Kesuksesan adalah setitik jarum dari segudang tumpukan kegagalan. Saya juga pernah mengalaminya, merancang produk hingga sempurna. Akhirnya saya belajar dari kesalahan masa lalu dan mulai memperbaiki kesalahan saya.
Sebenarnya, produk atau jasa yang anda buat tidak akan pernah sempurna. Sampai kapanpun anda memperbaikinya, selalu saja ada yang kurang maksimal. Jadi, produk atau jasa itu hanya harus “cukup bagus”, sekedar menjadi cukup baik untuk bisa diterima di pasar. Ini adalah salah satu kiat sukses bisnis yang perlu anda garis bawahi.
Tapi yang harus anda ingat, produk atau jasa anda jangan sampai terlalu buruk sehingga tidak memenuhi harapan pasar atau bahkan menimbulkan banyak masalah.
Anda bisa mendesain produk sesuai dengan apa yang diinginkan oleh konsumen dengan melakukan riset pemasaran. Kiat sukses bisnis-nya adalah, buatlah perusahaan yang berorientasi pada pemasaran, membuat produk yang bisa dijual.
Dan yang paling penting, salah satu tanda dan kiat sukses bisnis entrepreneur sukses adalah tahu kapan berhenti membangun produk atau jasa dan mulai memasarkannya. Tahu kapan saatnya mengenalkan sebuah produk atau jasa ke pasar adalah sebuah seni sekaligus sains.
Kalau produk diluncurkan terlalu cepat ke pasar, entrepreneur dapat sekadar meningkatkannya, dan mengambil langkah untuk mempertahankan posisi di pasar. Di lain pihak, penundaan dalam memperkenalkan produk bisa berarti kehilangan peluang yang kemungkinan tidak akan kembali.
Kalau anda tahu versi awal Windows, anda pasti sudah hafal seberapa seringnya komputer anda “hang”. Windows generasi pertama tersebut penuh virus, sampai-sampai banyak orang mengatakan Windows seharusnya dilengkapi dengan sekaleng penuh insektisida buat membasmi virus yang ada di dalamnya.
Coba anda bayangkan kalau sebuah mobil rusak sesering windows, tentunya tidak akan diterima oleh pasar kan? Bahkan mobil tersebut akan menjadi “barang jelek” yang harus diganti secepatnya oleh pembuatnya. Namun Windows, terlepas dari sering “hang”, mudah diserang virus dan cacatnya, bisa sukses secara fenomenal. Kenapa bisa seperti itu?
Jawabannya adalah karena Windows memenuhi pasar dan tidak berada di luar harapan pasar. Ingat baik-baik kiat sukses bisnis Microsoft tersebut. Tidak berada di luar harapan pasar. Pihak Microsoft tahu bagaimana kebutuhan pasar dan tahu kapan mereka harus melepas produknya ke konsumen.
Bisa anda bayangkan kalau sampai Microsoft menunggu sampai Windows sempurna, tentunya sampai sekarang Windows belum berada di pasar dan kita tidak akan pernah menggunakannya.
So, ingatlah selalu tips bisnis sukses ini : jangan tunggu sampai produk anda sempurna. Pilih segmentasi pasar-nya, mulai pasarkan, perbaikilah dan selalu penuhi harapan konsumen. Semoga kiat sukses bisnis diatas bermanfaat untuk anda.

Penjualan Sedang Turun Drastis? Jangan Panik, Ada Solusinya!

Pada waktu sedang saya sharing pemasaran dengan mas Febri, salah satu owner Tela-tela, beliau mengatakan bahwa dalam bisnis, ada kalanya sebuah produk akan menurun.

Kemudian saya teringat dengan beberapa produk baru yang dulunya super laku kemudian perlahan-lahan mulai sepi peminatnya dan akhirnya, mati! Bagi yang baru ingin memulai bisnis, masalah itu jadi momok yang menakutkan. Wajar saja.

Mereka takut setelah mereka bersabar membangun bisnis dari kecil hingga besar, tiba-tiba produk mereka tidak disentuh oleh konsumen. Padahal anda perlu tahu bahwa hal itu alamiah. Kalau dalam “bahasa marketing” namanya PLC, singkatan dari Product Life Cycle. 

Setiap produk yang anda buat pasti akan mengalami daur hidup. Di mulai dari perkenalan produk, pertumbuhan produk kematangan produk dan kematian produk. Ok, mari saya jelaskan apa dan bagaimana itu PLC dari kacamata pak Freddy Rangkuti dalam “The Power of Brand”.

1. Fase Perkenalan
Pada fase, ini kondisi usaha anda terhadap produk baru anda masih high cost dan low profit. Tinggi biayanya, baik biaya tetap dan variabel tetapi rendah pendapatannya. Pesaing anda belum banyak, awareness produk anda masih rendah dan permintaannya relatif kecil.

Penyebabnya karena produk anda belum terdistribusi dengan baik. Taktik pemasaran yang tepat kalau kata orang-orang yang pakar di bidang marketing adalah anda mempengaruhi dan mendidik konsumen dengan menggunakan promosi serta pricing yang tepat. Apalagi kalau anda bisa launching produk di momen yang tepat. Kata orang Jogja, tambah cong wel gud…

2.  Fase Pertumbuhan
Pada fase ini, produk anda sudah diterima oleh pasar. Efeknya, penjualannya meningkat. Tapi di sisi lain, pesaing anda mulai memasuki pasar yang anda bidik tadi. Lalu apa yang harus anda lakukan? Seperti biasa nih, kata dokter-dokter pemasaran, anda harus melakukan expand product line.

Apa itu? Menambah variasi produk, melakukan modifikasi produk untuk memperluas positioning yang berkaitan dengan ukuran baru, packaging atau desain kemasan baru (seperti yang sering dilakukan produk shampoo) serta tambahan formula.

Anda juga bisa melakukan strategi market segmentasi, yaitu menjual produk anda dengan berbagai merek dan tetap melakukan promosi yang kreatif.  Jadi anda bisa membidik banyak pasar, begitu…

3. Fase Dewasa
Ketika produk anda memasuki fase ini, terjadi persaingan yang sangat ketat. Penjualan produk anda cenderung stabil dan biasanya, harganya cenderung turun. Jadi anda harus mulai meningkatkan margin produk anda, tetap melakukan promosi, mencari dan mengurangi saluran distribusi anda yang tidak efisien serta mulai mencari pasar baru.

4. Fase Decline
Pada fase decline, penjualan dan profit anda menurun tajam. Anda hanya akan mendapati beberapa pemain dan pembeli yang sangat selektif. Solusinya adalah anda mendesain ulang produk anda, mengurangi biaya, menunda decline, mengurangi inventori dan saluran distribusi serta membatasi promosi untuk selected market.

Saya akan ambilkan satu contoh strategi meningkatkan product life cycle jika sebuah produk sudah mengalami kejenuhan pasar. Sepeda motor Honda dan Yamaha melakukan launching ulang produknya ke negara lain saat produk mereka sudah mengalami, katakanlah fase decline.

Produk lama di suatu negara jika dipindahkan ke negara lain berarti produk tersebut menjadi baru. Efeknya, produk tersebut akan memulai “fase hidupnya” lagi mulai dari perkenalan hingga decline. Selain itu anda bisa melakukan berbagai promosi agar produk yang sudah mengalami decline tergantikan atau diperpanjang umurnya.

Seperti yang dilakukan HM. Sampurna dengan Dji Sam Soe-nya. Saya terpaksa memberi contoh produk ini. Karena saya setuju dengan pendapat MUI bahwa rokok itu haram. Anda lihat saja, manfaat dengan kerusakannya lebih banyak kerusakannya. Lho, kok malah saya berkhotbah, ha..ha..ha.. Tapi nggak papa, sekali-kali kan boleh… :)

Kembali ke laptop… Apakah hanya perusahaan besar yang bisa melakukan hal ini? Jawabannya jelas dan tegas, TIDAK! Begini, anda masih ingat kan artikel saya tentang bisnis lobster air tawar? Saya pernah dapat permintaan bibit lobster air tawar dari daerah baru akhir-akhir ini. Kayaknya di sana baru trend. Padahal kalau di Jogja, permintaan bibit sudah habis..bis..bis…

Terlepas dari baik buruknya bisnis tersebut, fenomena tersebut dapat anda ambil pelajarannya kan? Tidak perlu anda ekspansi ke negara lain seperti contoh motor Yamaha dan Honda di atas. Cukup ekspansi ke daerah lain saja.

Jadi sekarang anda jangan takut lagi kalau suatu saat produk anda yang tadinya laris manis kemudian ditinggalkan. Habis manis sepah dibuang, begitu peribahasanya. Sekali lagi saya katakan, hal itu alamiah. So, lakukan selalu inovasi…
Ada tanggapan?
(sumber gambar : freepresentationslides.blogspot.com)

Jangan Remehkan Keuntungan Usaha Kecil dari Hasil Penjualan Anda

Sabtu siang minggu lalu saya didatangi oleh beberapa kawan “seperjuangan”. Kebetulan salah satunya sedang memulai usaha baru. Kami terlibat sebuah pembicaraan yang cukup menarik.
Sampai akhirnya saya bertanya kepada salah satu dari kawan saya tersebut tentang berapa keuntungan usaha yang dia dapat dari hasil penjualan salah satu produknya.
Dia menjawab, “Wah, kalau untuk produk yang itu kecil mas. Keuntungan usahanya cuman 10 ribu per item. Kompetitor saya yang sudah lama berjalan saja cuman dapet 20 ribu. Kejarnya harus kuantiti dari hasil penjualan mas.”
“Diambil nggak orderannya?”, tanya saya. Dia jawab, “Banyak sih yang telpon mas. Tapi nggak saya ambil.” Waduh, ini bisa jadi masalah, pikir saya. Kenapa bisa jadi masalah?  Pertama, jangan selalu memandang bisnis itu identik dengan uang atau keuntungan usaha yang besar.
Jika itu satu-satunya alasan anda menjalankan sebuah bisnis, kemungkinan besar anda tidak akan behasil. Mengapa? Karena hampir bisa dipastikan, bulan-bulan atau tahun-tahun pertama anda memulai usaha, anda akan lebih banyak mengeluarkan uang.
Kedua, dengan kondisi teman saya yang masih “terlalu dini” dalam bisnis barunya, order dengan jumlah keuntungan usaha yang kecil tadi bisa ia jadikan buat pengalaman atau curiculum vitae.
Saya selalu menyarankan bahwa suatu perjalanan dimulai dengan sebuah langkah, dan mulailah dengan langkah yang kecil. Keuntungan usaha itu tidak hanya berupa materi, tapi bisa juga non materi seperti pengalaman, pengetahuan bahkan kepuasan pribadi.
Ketiga, anda harus tahu bahwa salah satu kebiasaan dari smart konsumen adalah “tidak membeli dalam jumlah besar” di awal pembelian. Mereka cenderung melakukan pembelian coba-coba. Justru dengan menolak konsumen yang kecil tadi, ia telah kehilangan “database” konsumen. Jangan pernah remehkan setiap hasil penjualan anda, walaupun kecil.
Nah, database pelanggan inilah yang anda butuhkan. Memang pada awalnya, keuntungan usaha anda sedikit, seperti contoh kasus diatas. Tapi setelah itu, anda bisa menggunakan 2 cara untuk meningkatkan keuntungan usaha anda. Caranya dengan :
1. Up Sell
Anda menawarkan versi produk atau jasa anda yang lebih. Contohnya, misalkan anda menjual mesin penetas telur kapasitas kecil. Anggap keuntungan usahanya hanya 10 ribu rupiah lah, persis seperti kasus teman saya diatas. Setelah si konsumen tadi membeli mesin anda, dia pasti merasakan manfaat produk anda kan?
Beberapa bulan kemudian, berikan penawaran menarik kembali dengan versi yang lebih tinggi. Anda bisa bilang, “Pak, ini ada mesin penetas telur yang kapasitasnya lebih banyak lho. Lebih ngirit listriknya. Kapasitasnya juga lebih banyak. Kalau dihitung-hitung, jatuhnya harga lebih murah pak.” Coba kalau anda tidak menerima order yang kecil tadi. Bisa berabe kan?
2. Cross Sell
Anda menawarkan lebih dari yang konsumen cari. Siapa dari anda yang pernah makan di restoran cepat saji seperti McDonald’s, KFC atau Texas Chicken? Ketiga usaha waralaba tersebut punya jurus andalan, yaitu cross sell, menawarkan produk lain setelah konsumen membeli produk tertentu.
Anda ingin tahu seperti apa contoh cross sell mereka? Begini, jika anda hanya membeli ayam goreng saja, dengan sigap pelayannya akan menawari anda “Kentangnya pak?”. Kemudian dia menawarkan lagi “Es krimnya nggak sekalian pak?” Kemudian anda ditawari lagi “Supnya pak? Hangat lho…”.
Dan hebatnya, menurut hasil survei pasar dari pak Tung Desem Waringin, presentase keberhasilan teknik penawaran seperti ini mencapai 70 hingga 80%. Dan biaya yang harus anda keluarkan, GRATIS! Lha kalau anda ikut-ikutan menolak hasil penjualan yang kecil tadi, berapa lagi omset tambahan yang harus anda lepas karena anda tidak mengambil order yang kecil tadi?
Poinnya adalah, jangan pernah anda meremehkan konsumen yang membeli sedikit atau keuntungan usaha yang anda dapat kecil. Yang penting anda sudah tahu caranya memperbesar pembelian konsumen dari hasi penjualan anda.
Sekarang, masihkah anda mau menyepelekan pembelian yang sedikit atau order dengan keuntungan usaha yang sekilas terlihat mepet?
(sumber gambar : msco.com)

4 Syarat Jual Beli Pengiriman Barang yang Harus Anda Ketahui

Pernah suatu ketika saya mendapatkan email berisi penawaran barang. Di akhir email tersebut, si penjual memberikan harga kepada saya dengan tambahan keterangan pengiriman barang domestik : franco gudang. Pada saat itu saya tidak tahu apa itu franco gudang.
Karena saya takut dibilang “pengusaha udik” (padahal iya), akhirnya saya cari apa sih franco gudang itu. Ternyata franco gudang adalah syarat jual beli terkait masalah pengiriman barang. Dan syarat jual beli ini “masih ada teman-temannya” yang lain.
Berhubung saya yakin anda juga akan sakit hati kalau nanti ada yang bilang kepada anda “pengusaha udik”,  maka sebelum hal itu terjadi kepada anda, saya jelaskan apa saja syarat jual beli yang terkait pengiriman barang tersebut.
  1. Loko Gudang
    Pada syarat jual beli ini, pembeli harus menganggung biaya pengiriman barang dari gudang penjual ke gudang pembeli.
  2. Franco Gudang
    Kebalikannya syarat jual beli loko gudang, pada syarat jual beli ini, penjual menanggung biaya pengiriman barang sampai ke gudang pembeli.
  3. Free on Board
    Kalau anda sudah mulai terlibat perdagangan luar negeri, ada bisa saja dikenakan syarat jual beli free on board. Pemberitahuannya biasanya dikirim lewat surat bisnis atau email. Free on board adalah syarat jual beli yang membebankan biaya pengiriman barang kepada pembeli dari luar negeri. Biaya pengiriman barangnya meliputi biaya dari pelabuhan muat penjual sampai ke pelabuhan penerima yang digunakan oleh si pembeli. Penjual di dalam negeri, dalam hal ini Indonesia, hanya menanggung biaya pengangkutan sampai ke pelabuhan muatnya saja.
  4. Cost, Freight, and Insurance
    Kadang-kadang dalam surat perjanjian jual beli disebutkan bahwa penjual harus menanggung cost, freight and insurance. Anda tidak perlu bingung dengan syarat jual beli ini. Cost, freight and insurance ini adalah syarat jual beli dimana penjual harus menanggung biaya pengiriman barang dan asuransi kerugian atas barang yang dikirim.
Sekarang anda sudah tidak lagi disebut “pengusaha udik”. Anda sudah tahu keempat syarat jual beli yang terkait dengan pengiriman barang yang telah saya terangkan di atas.
Jadi jangan sampai kalau nanti anda dikirimi surat penawaran bisnis atau ditanya pembeli,  “Pak, biaya pengiriman barang-nya loko gudang apa franco gudang?”.
Anda hanya bengong sambil mengatakan, “Terserah bapak saja, saya ikut”. Bukan karena anda memberikan pilihan yang bijak kepada pembeli, tapi karena anda nggak mudeng apa itu franco dan loko gudang. :)
(sumber gambar : eriassumarnabusinessopportunity.blogspot.com)

9 Teknik yang Harus Dikuasai Agar Penjualan Anda Berhasil

Jika anda cermati, perilaku konsumen masyarakat kita sering menawar setiap produk yang akan mereka beli. Bagi si penjual, biasanya sulit untuk bisa menghindari konsumen yang berperilaku seperti ini.
Bahkan tak jarang ketika kita menjadi seorang pembeli, kitapun akan melakukan hal yang sama. Terkadang lebih “kejam”.
Itu lumrah, karena sudah dari “sononya” setiap pembeli akan meminta harga yang paling pas dengan kantongnya.
Masalahnya apabila anda seorang pengusaha, menjual produk yang anda miliki adalah suatu keharusan, bukan pilihan. Itu adalah salah satu kemampuan dasar seorang pengusaha yang harus anda miliki.
Pada saat anda hendak menjual produk anda, pembeli akan berusaha melakukan negosiasi (baca : menawar) dengan anda. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara menghadapi pembeli yang selalu berkeinginan untuk menawar produk yang anda jual?
Anda atau tim penjualan anda bisa praktekkan 9 teknik penjualan di bawah ini yang bisa dipakai kapan saja. Tapi ingat, sebaik-baik anda mempraktekan teknik penjualan tersebut, tetap saja ada yang tidak berhasil.
Bukan karena cara atau teknik penjualan-nya yang buruk atau, tetapi sudah demikian adanya bahwa segalanya tidak mungkin sempurna.
1. Anda harus benar-benar menguasai produk yang akan anda jual. Bila anda menguasai kelebihan dan kekurangan produk anda dengan baik, maka anda akan relatif lebih mudah untuk menggiring konsumen mengikuti apa yang anda inginkan.
2. Gali potensi dan kebutuhan calon konsumen. Setelah itu anda arahkan supaya produk yang anda tawarkan itu bisa menjadi alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhannya.
3. Gunakan selalu tutur kata yang baik dan sopan dengan bahasa tubuh yang proposional. Pastikan anda tulus dan ikhlas untuk membantu memenuhi kebutuhannya.
4. Anda harus yakin bahwa produk yang sedang anda tawarkan sangat penting dan sangat berarti bagi konsumen.
5. Jadilah selalu sebagai orang yang bisa dipercaya. Anda harus bisa memegang komitmen dengan baik dan menjalankan komitmen itu seperti yang sudah direncanakan.
6. Bila memenuhi kendala atau masalah dalam hal sudah terjadi komitmen dengan pembeli pelanggan. Anda harus terus terang dan mempertanggung jawabkan segala resiko yang mungkin akan timbul dengan semestinya.
7. Carilah selalu titik temu yang optimum dalam setiap negosiasi yang anda jalankan dengan konsumen anda, supaya dia puas dan andapun juga puas.
8. Hindari menjual berdasarkan belas kasihan konsumen. Anda harus mengarahkan pembeli pada satu keputusan membeli secara rasional, bukan atas dasar belas kasihan.
9. Selalulah anda melayani dengan sesempurna mungkin supaya pelanggan akan sangat bergantung dengan anda. Teknik penjualan yang ini harus dilakukan seproposional mungkin.
Saya harap teknik negosiasi dan teknik menjual diatas bermanfaat bagi anda. Anda siap mempraktekkan tehnik penjualan diatas?